Momentum di Lantai Bursa
Grafik harian AMMN sejak awal Juni membentuk kanal naik yang kian lebar setelah harga menutup sesi Rabu di Rp8 447, naik empat setengah persen dibanding sehari sebelumnya. Garis rata-rata bergerak (MA) 10 hari sudah menembus MA20 dan MA50—formasi silang emas yang menegaskan bias kenaikan.
Volume juga cenderung menggelembung saat harga mendekati Rp8.800—level yang oleh Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dianggap sebagai pemicu bagi investor untuk mulai melakukan average-up.
“Target harga selanjutnya berada di kisaran Rp9.000–Rp9.225, dan target utama di Rp10.000. Sementara itu, level support (batas bawah teknikal) berada di kisaran Rp8.300–Rp8.200,” tulis Liza dalam analisis teknikalnya, Rabu, 9 Juli 2025.
Liza menilai bahwa Rp10.000 adalah target teknikal berikutnya yang belum tercapai sejak saham ini rebound dari titik terendahnya di Rp4.610 pada April lalu. Menurutnya, dengan dukungan harga tembaga yang melonjak, AMMN punya peluang kuat untuk menyentuh harga tertingginya sepanjang tahun ini, dan bahkan melampauinya.
Harga Tembaga Menggeliat di Pasar Global
Katalis paling nyata datang dari pasar komoditas. Kemarin, kontrak tembaga di New York melonjak hampir 17 persen intrahari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan rencana tarif impor 50 persen untuk logam merah tersebut. New York langsung mencatat premi 24 persen atas kontrak London, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Di London Metal Exchange (LME), harga sempat melampaui USD11 000 per ton, level yang oleh Goldman Sachs diproyeksikan bertahan di kisaran tinggi sepanjang paruh kedua 2025.
Lompatan harga tembaga global memberi dampak ganda bagi Amman. Pertama, dari sisi margin, prospek keuntungan perusahaan berpotensi menguat karena sebagian besar pendapatan Amman masih bersumber dari penjualan konsentrat tembaga. Harga jual yang lebih tinggi otomatis akan memperlebar selisih antara biaya produksi dan pendapatan bersih, terutama di tengah upaya efisiensi menyusul penundaan kinerja penuh smelter mereka.
Kedua, dari sisi persepsi pasar, tarif impor yang digulirkan Amerika Serikat menciptakan semacam “premium regional”—harga tembaga di pasar Amerika melambung jauh dibanding London Metal Exchange. Ketimpangan ini memicu kekhawatiran akan defisit pasokan global, sekaligus menjadi sentimen positif bagi emiten produsen tembaga seperti AMMN. Investor akan menimbang ulang valuasi saham berbasis komoditas ini dengan ekspektasi bahwa potensi keuntungan akan berbanding lurus dengan kelangkaan pasokan dan kenaikan harga jual.
Sinyal lain yang tak kalah penting datang dari dalam negeri. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian baru-baru ini mengonfirmasi telah meminta pelonggaran larangan ekspor konsentrat tembaga bagi AMMN, sebab ekonomi Nusa Tenggara Barat—basis tambang Batu Hijau—“tertekan 1,47 persen pada kuartal I” akibat macetnya penjualan konsentrat.
“Saya telah bertanya kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral apakah ada kemungkinan untuk mengizinkan ekspor sementara kita menunggu smelter selesai,” kata Tito awal pekan ini dikutip dari Reuters, Rabu, 9 Juli 2025.
Pemerintah Indonesia memang tengah melarang ekspor konsentrat tembaga dan sejumlah mineral mentah lainnya sebagai bagian dari strategi hilirisasi. Namun, larangan itu menyisakan persoalan teknis dan finansial di lapangan, terutama bagi perusahaan yang smelternya belum beroperasi maksimal.
AMMN sempat melaporkan pada Februari lalu bahwa mereka memiliki stok sekitar 200 ribu ton konsentrat tembaga yang siap diekspor, tetapi tertahan kebijakan. Smelter tembaga mereka memang sudah mulai berproduksi pada Maret 2025, namun belum berjalan penuh.
Juru bicara AMMN, Kartika Octaviana, menjelaskan kapasitas desain smelter diangka 220 ribu ton katoda per tahun, tetapi saat ini belum tercapai akibat berbagai kendala teknis yang sedang diselesaikan. Perusahaan juga telah melaporkan masalah ini kepada pemerintah.
“Kepekaan dan keluwesan kebijakan pemerintah, terutama terkait penjualan konsentrat tembaga, akan sangat membantu menjaga kekuatan finansial perusahaan sembari mengoptimalkan operasional smelter,” ujar Kartika. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian ESDM belum memberikan komentar resmi.
AMMN Masih Nyaman di Jalur Naik
Di tengah dukungan fundamental dari harga tembaga global dan sentimen pelonggaran kebijakan ekspor, indikator teknikal harian saham AMMN per 9 Juli 2025 juga menunjukkan konfirmasi kuat bahwa saham ini masih berada dalam jalur penguatan yang solid.
Berdasarkan data Investing, semua indikator utama sepakat pada satu arah: beli kuat (strong buy). Baik dari sisi moving average (rata-rata pergerakan) maupun indikator teknis seperti RSI, MACD, hingga ADX, seluruh sinyal mengindikasikan momentum kenaikan yang belum habis.
Dari rata-rata pergerakan jangka pendek hingga panjang, semua MA—baik sederhana maupun eksponensial—berada di bawah harga pasar saat ini. MA5 dan MA10 (di kisaran Rp8.525 dan Rp8.578) masih lebih rendah dari harga terakhir di Rp8.775, mengindikasikan bahwa tren jangka pendek tetap naik. Bahkan MA200—yang menjadi garis bawah jangka panjang—masih tertinggal di Rp7.867. Artinya, secara struktural, tren jangka menengah dan panjang AMMN tetap terjaga di zona bullish.
Sementara itu, dari sisi indikator teknikal, Relative Strength Index (RSI) berada di level 66,64—cukup mendekati batas overbought, tapi belum menandakan kejenuhan beli. Indeks ini menyiratkan bahwa permintaan terhadap saham AMMN masih kuat dan konsisten.
Moving Average Convergence Divergence atau MACD yang mencatat angka positif sebesar 343,35 juga mempertegas bahwa momentum harga masih dalam pola divergen menguat. Begitu pula dengan Average Directional Index atau ADX yang berada di atas 47—angka yang secara umum menandakan tren kuat sedang berlangsung.
Namun dua indikator osilator—Stochastic RSI dan Williams %R—telah masuk ke area “terlalu banyak dibeli” (overbought). Ini bisa menandakan potensi jeda jangka pendek atau koreksi sehat, terutama jika harga menyentuh zona resistensi teknikal.
Dalam kalkulasi titik poros (pivot point), harga AMMN sudah melewati garis tengah di berbagai model seperti klasik, Fibonacci, hingga Woodie. Posisi harga kini mengarah ke zona resistensi R1 hingga R2 (Rp8.483 hingga Rp8.616), dan semakin dekat dengan resistensi R3 di atas Rp8.700. Jika level ini berhasil dilampaui dalam beberapa sesi ke depan dengan volume besar, target teknikal berikutnya akan mengarah ke zona psikologis Rp9.000.(*)