Insight Daily 10 Mar 2026 Penulis: KabarBursa.com

Akumulasi Besar Muncul di Balik Koreksi Harga Saham ITMA

Di samping melemahnya harga, investor asing tampaknya masih melirik saham emiten energi ini.

KABARBURSA.COM - Saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) terpantau diakumulasi investor asing meski harga ditutup melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026.Per kemarin, saham ITMA ditutup di zona merah usai terkoreksi sebesar 1,17 persen atau 30 poin ke level 2.540. Di samping melemahnya harga, investor asing tampaknya masih melirik saham emiten energi ...

Foto: PT Sumber Energi Andalan Tbk
Foto: PT Sumber Energi Andalan Tbk

Insight Navigator

  1. 01 Fundamental ITMA

KABARBURSA.COM - Saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) terpantau diakumulasi investor asing meski harga ditutup melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026.

Per kemarin, saham ITMA ditutup di zona merah usai terkoreksi sebesar 1,17 persen atau 30 poin ke level 2.540. Di samping melemahnya harga,  investor asing tampaknya masih melirik saham emiten energi ini.

Mengutip data Stockbit, broker II tercatat sebagai pembeli terbesar dengan nilai akumulasi mencapai sekitar Rp26,6 miliar. Broker tersebut membukukan volume pembelian sekitar 98,5 ribu lot dengan harga rata-rata transaksi di level Rp2.700 per saham.

Di posisi berikutnya terdapat broker CC yang turut mencatatkan pembelian dengan nilai sekitar Rp696,7 juta. Broker ini mengoleksi sekitar 2,6 ribu lot saham dengan harga rata-rata pembelian di kisaran Rp2.690 per saham.

Selanjutnya, broker AK juga tercatat melakukan akumulasi dengan nilai pembelian sekitar Rp505,3 juta. Volume transaksi yang dilakukan mencapai 2 ribu lot dengan harga rata-rata pembelian di level Rp2.617 per saham.

Selain itu, broker BK tercatat melakukan pembelian sekitar Rp15,9 juta dengan volume transaksi 59 lot pada harga rata-rata Rp2.688 per saham. Sementara itu, broker ZP juga tercatat mengoleksi saham ITMA dengan nilai sekitar Rp13,4 juta melalui transaksi sebanyak 54 lot pada harga rata-rata Rp2.486 per saham.

Menariknya, pada perdagangan kemarin, tidak terlihat adanya aktivitas penjualan investor asing.  Dominasi pembelian oleh investor asing sering kali menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan pelaku pasar.

Akumulasi yang dilakukan oleh broker-broker tertentu dapat mengindikasikan adanya pandangan positif terhadap prospek perusahaan atau potensi pergerakan harga saham ke depan.

Selain itu, harga rata-rata pembelian yang berada di kisaran Rp2.600 hingga Rp2.700 per saham juga dapat menjadi area referensi bagi pelaku pasar dalam membaca dinamika permintaan terhadap saham tersebut.

Pergerakan ini menjadi salah satu sinyal yang kerap dicermati oleh investor ritel maupun pelaku pasar lainnya dalam menganalisis arah pergerakan saham ke depan. Meski demikian, dinamika harga saham tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti kondisi pasar secara keseluruhan, sentimen sektoral, serta perkembangan fundamental perusahaan.

Pergerakan saham ITMA  menunjukkan tren penguatan yang signifikan dalam berbagai horizon waktu. Data price performance Stockbit menunjukkan bahwa secara jangka menengah hingga panjang, saham ini masih berada dalam tren kenaikan yang kuat.

Secara year to date (YTD) atau sejak awal tahun 2025, saham ITMA masih membukukan kenaikan sekitar 44,32 persen dengan rentang harga antara Rp1.685 hingga Rp2.920 per saham.

Dalam rentang satu minggu terakhir, saham ITMA tercatat menguat sekitar 3,67 persen, dengan kisaran pergerakan harga antara Rp2.170 hingga Rp2.750 per saham.

Kinerja saham ITMA semakin terlihat menonjol ketika dilihat dalam periode satu bulan. Dalam rentang waktu tersebut, saham ini mencatatkan kenaikan sebesar 28,61 persen, dengan pergerakan harga dari sekitar Rp1.930 hingga mencapai Rp2.920 per saham.

Penguatan bahkan terlihat lebih tajam jika dilihat dalam periode tiga bulan terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, saham ITMA telah melonjak sekitar 56,31 persen, dengan harga bergerak dari kisaran Rp1.430 hingga Rp2.920 per saham.

Tren positif juga tercermin dalam periode enam bulan. Dalam setengah tahun terakhir, saham ITMA berhasil mencatatkan kenaikan yang sangat signifikan yakni sekitar 130,91 persen. Harga saham tercatat bergerak dari kisaran Rp1.005 hingga mencapai Rp2.920 per saham.

Kinerja impresif saham ITMA semakin terlihat jika dilihat dalam perspektif tahunan. Dalam periode satu tahun terakhir,  ITMA telah melonjak sekitar 183,80 persen, dengan pergerakan harga dari sekitar Rp590 hingga Rp2.920 per saham.

Tidak hanya itu, tren kenaikan juga terlihat dalam horizon waktu yang lebih panjang. Dalam periode tiga tahun, ITMA telah menguat sekitar 287,79 persen, sementara dalam lima tahun saham ini mencatat kenaikan sekitar 268,12 persen.

Bahkan jika ditarik lebih jauh hingga 10 tahun, saham ITMA masih menunjukkan kinerja yang solid dengan penguatan sekitar 276,43 persen.

Secara keseluruhan, data price performance menunjukkan bahwa saham ITMA berada dalam tren kenaikan jangka menengah hingga panjang yang cukup kuat.

Bagi pelaku pasar, data kinerja harga dalam berbagai periode ini menjadi salah satu indikator penting dalam membaca tren pergerakan saham. Kombinasi antara kinerja historis, sentimen pasar, serta aktivitas transaksi investor akan terus menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan saham ITMA pada perdagangan selanjutnya.

Fundamental ITMA


ITMA menunjukkan dinamika menarik dari sisi fundamental. Berdasarkan data Stockbit, kinerja profitabilitas perusahaan masih relatif tipis meskipun neraca keuangan perseroan tergolong cukup sehat.

Dari aspek solvabilitas, ITMA mencatat rasio utang terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0,19 kali. Namun, dari sisi likuiditas jangka pendek, kondisi ITMA terlihat cukup ketat dengan current ratio dan quick ratio perusahaan masing-masing berada di level 0,39 kali.

Dari sisi profitabilitas, kinerja ITMA masih menunjukkan tingkat pengembalian yang relatif rendah. Return on Assets (ROA) tercatat sebesar 0,43 persen, sementara Return on Equity (ROE) berada di level 0,52 persen dalam perhitungan trailing twelve months (TTM).

Dalam konteks pasar saham, ROE yang rendah sering kali mencerminkan bahwa efisiensi penggunaan modal perusahaan masih perlu ditingkatkan.

Di sisi lain, tekanan profitabilitas juga terlihat dari sisi margin operasional perusahaan. Gross profit margin tercatat negatif sebesar -10,78 persen, sedangkan operating profit margin bahkan mencapai -23,55 persen.

Meski demikian, ITMA justru mencatat net profit margin sebesar 53,60 persen, yang menunjukkan bahwa laba bersih perusahaan relatif besar dibandingkan dengan total pendapatan.

Adapun, ITMA  mencatat pertumbuhan signifikan pada kinerja operasional sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Berdasarkan laporan keuangan interim hingga 30 September 2025, perusahaan membukukan lonjakan pendapatan.

Dalam laporan tersebut, ITMA mencatat pendapatan sebesar USD935,77 juta, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai USD172,62 juta.

Lonjakan pendapatan tersebut mendorong laba bruto perusahaan naik menjadi USD203,08 juta, dari sebelumnya USD147,47 juta pada periode yang sama tahun 2024. 
 

Meski mencatat pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga menghadapi tekanan dari sisi biaya operasional. Beban pokok penjualan tercatat mencapai USD732,69 juta, meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar USD25,14 juta.

Di sisi lain, beban umum dan administrasi tercatat USD216,31 juta, naik dari USD129,50 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, ITMA membukukan laba sebelum pajak sebesar USD802,26 juta, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD1,44 miliar.

Dari sisi neraca, total aset perusahaan per 30 September 2025 tercatat mencapai USD258,50 juta, meningkat dari posisi akhir tahun 2024 sebesar USD250,98 juta.

Aset lancar tercatat USD2,29 juta, sementara aset tidak lancar mendominasi struktur keuangan perusahaan dengan nilai USD256,21 juta.

Di sisi liabilitas, total kewajiban perusahaan tercatat sebesar USD43,47 juta, meningkat dibandingkan akhir tahun 2024 yang sebesar USD36,80 juta. Liabilitas tersebut terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar USD5,91 juta serta liabilitas jangka panjang sebesar USD37,55 juta.

Sementara itu, posisi ekuitas perusahaan mencapai USD215,03 juta, sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang sebesar USD214,18 juta.

Dari sisi profitabilitas, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat USD900,65 juta, sementara bagian yang menjadi hak kepentingan non-pengendali mencatat rugi sebesar USD98,39 juta. Dengan demikian, laba per saham dasar perseroan tercatat sebesar USD0,00080 per saham. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com