Insight Daily 06 Apr 2026 Penulis: KabarBursa.com

Aksi Senyap Asing di Saham LSIP Terus Berlanjut

AK menjadi broker dengan pengakumulasi terbesar dengan total nilai pembelian mencapai Rp15,7 miliar

KABARBURSA.COM - PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) terpantau tengah diakumulasi oleh investor asing melalui beberapa broker pada pekan lalu periode 30 Maret - 2 April 2026.Berdasarkan data orderbook Stockbit, AK menjadi broker dengan pengakumulasi terbesar dengan total nilai pembelian mencapai Rp15,7 miliar. Saham LSIP menunjukkan performa impresif d...

Aktivitas diperkebunan sawit. Foto: Dok LSIP
Aktivitas diperkebunan sawit. Foto: Dok LSIP

Insight Navigator

  1. 01 Pergerakan Harga Saham
  2. 02 Kinerja Keuangan 2025

KABARBURSA.COM - PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) terpantau tengah diakumulasi oleh investor asing melalui beberapa broker pada pekan lalu periode 30 Maret - 2  April 2026.

Berdasarkan data orderbook Stockbit, AK menjadi broker dengan pengakumulasi terbesar dengan total nilai pembelian mencapai Rp15,7 miliar. Volume  transaksi yang dikantongi broker ini mencapai 109 ribu lot dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,6 ribu kali dan harga rata-rata pembelian di level Rp1.441 per saham.

Di posisi kedua, broker ZP mencatatkan nilai beli sebesar Rp6,4 miliar dengan total volume 45,2 ribu lot dan frekuensi transaksi 1,5 ribu kali. Harga rata-rata pembelian ZP berada di kisaran Rp1.431, sedikit lebih rendah dibandingkan AK.

Selanjutnya, broker BK turut mencatatkan akumulasi senilai Rp3,7 miliar dengan volume 25,6 ribu lot dan frekuensi 456 kali transaksi. BK masuk di harga rata-rata Rp1.449 per saham.

Sementara itu, broker CC membukukan pembelian Rp3,2 miliar dengan volume 22,1 ribu lot dan frekuensi 497 transaksi, serta harga rata-rata Rp1.457.

Di luar empat besar, aktivitas beli juga terlihat pada broker AG dengan nilai Rp380,9 juta, disusul HD sebesar Rp29,2 juta, serta QA dengan nilai relatif kecil sebesar Rp1 juta. Meskipun kontribusinya tidak sebesar broker sebelumnya, kehadiran broker-broker ini tetap memperkuat sentimen akumulasi pada saham LSIP.

Di sisi lain, tekanan jual terlihat lebih terbatas. Broker YU tercatat sebagai penjual terbesar dengan nilai transaksi Rp2,4 miliar, diikuti BB sebesar Rp816,3 juta, serta YP Rp210,5 juta. Broker KK dan TP masing-masing mencatatkan nilai jual Rp117,5 juta dan Rp114 juta. Sementara itu, broker OD hanya mencatatkan penjualan sebesar Rp1,4 juta.

Jika dibandingkan secara agregat, nilai pembelian jauh melampaui nilai penjualan, mencerminkan dominasi aksi akumulasi oleh investor asing.

Aksi borong oleh investor asing kerap menjadi sinyal awal adanya ekspektasi positif terhadap kinerja emiten. Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati risiko yang ada, termasuk volatilitas harga komoditas dan faktor eksternal seperti kebijakan global.

Meski data broker summary menunjukkan kecenderungan akumulasi, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan analisis yang lebih komprehensif.

Dengan dominasi pembelian oleh broker besar seperti AK dan ZP, saham LSIP kini berada dalam radar investor sebagai salah satu kandidat yang berpotensi mengalami penguatan lanjutan. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada keberlanjutan aliran dana asing serta sentimen sektor yang berkembang dalam waktu dekat.

Pergerakan Harga Saham

Saham LSIP menunjukkan performa impresif dalam berbagai rentang waktu perdagangan. Berdasarkan data terbaru, saham ini tercatat menguat signifikan dalam jangka pendek hingga menengah.

Dalam rentang satu pekan, LSIP berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 8,00 persen. Tren ini semakin kuat jika ditarik dalam periode satu bulan, di mana saham LSIP melonjak hingga 21,72 persen.

Bahkan dalam tiga bulan terakhir, saham industri perkebunan kelapa sawit dan karet ini sudah menguat 24,27 persen, sejalan dengan kinerja year-to-date (YTD) yang juga berada di level yang sama, yakni 24,27 persen.

Kinerja positif ini semakin menarik jika dilihat dalam jangka waktu lebih panjang. Dalam periode satu tahun, LSIP mencatatkan kenaikan sebesar 33,78 persen, sementara dalam tiga tahun terakhir melonjak hingga 44,17 persen.

Meski demikian, dalam waktu 10 tahun terakhir, saham LSIP masih mencatatkan penurunan sebesar 15,63 persen.

Sentimen positif terhadap LSIP juga diperkuat oleh pandangan analis. Dari total delapan analis yang memberikan penilaian di Stockbit, sebanyak enam analis merekomendasikan beli, sementara dua lainnya memberikan rekomendasi tahan, tanpa ada rekomendasi jual.

Konsensus tersebut menempatkan LSIP dalam kategori saham yang secara umum dipandang memiliki prospek menarik oleh pelaku pasar institusi.

Lebih lanjut, target harga rata-rata analis untuk LSIP berada di level Rp1.678, yang mencerminkan potensi kenaikan (upside) dari harga saat ini di Rp1.485.

Target tertinggi bahkan mencapai Rp1.840, sementara estimasi terendah berada di Rp1.250. Rentang target ini menunjukkan adanya keyakinan bahwa ruang penguatan saham LSIP masih terbuka, meskipun tetap disertai risiko koreksi jika terjadi perubahan sentimen pasar.

Kinerja Keuangan 2025

LSIP mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, dengan pertumbuhan signifikan pada pendapatan dan laba bersih. Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp5,51 triliun, meningkat dari Rp4,56 triliun pada tahun sebelumnya.

Kenaikan pendapatan ini sejalan dengan lonjakan profitabilitas. Laba sebelum pajak LSIP tercatat sebesar Rp2,27 triliun, naik dari Rp1,77 triliun pada 2024. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp1,88 triliun, meningkat dari Rp1,47 triliun pada tahun sebelumnya.

Dengan laba bersih mendekati Rp2 triliun dari pendapatan Rp5,5 triliun, LSIP menunjukkan kemampuan menjaga profitabilitas di tengah dinamika sektor perkebunan yang dipengaruhi fluktuasi harga komoditas global.

Dari sisi struktur pendapatan, kontribusi utama masih berasal dari penjualan produk perkebunan, dengan dukungan aktivitas ekspor yang turut menopang kinerja.

Selain itu, perseroan juga mencatat pendapatan lain sebesar Rp74,3 miliar, yang turut menambah total kinerja operasional. Di sisi lain, beban lainnya tercatat relatif terkendali, meskipun sempat terjadi tekanan dari komponen non-operasional.

Secara keseluruhan, total aset LSIP tercatat mencapai Rp15,54 triliun pada akhir 2025, meningkat dari Rp13,84 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan ekspansi aset yang cukup agresif, sekaligus menunjukkan penguatan kapasitas operasional perusahaan di sektor perkebunan.

Dari sisi likuiditas, kas dan setara kas LSIP melonjak signifikan menjadi Rp7,59 triliun dari sebelumnya Rp5,45 triliun. Peningkatan ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan memiliki ruang yang lebih luas untuk mendanai operasional maupun ekspansi ke depan tanpa tekanan likuiditas yang berarti.

Sejalan dengan itu, total aset lancar juga naik menjadi Rp8,69 triliun dari Rp7,11 triliun. Komponen ini didorong oleh kas yang meningkat serta stabilnya posisi persediaan di kisaran Rp613,8 miliar.

Namun demikian, terdapat penurunan pada aset biologis lancar menjadi Rp245,7 miliar dari Rp305,3 miliar, yang mengindikasikan adanya dinamika dalam siklus produksi tanaman atau valuasi aset biologis.

Di sisi lain, aset tidak lancar juga mengalami peningkatan menjadi Rp6,84 triliun dari Rp6,72 triliun. Salah satu komponen utama adalah aset tetap yang naik menjadi Rp2,69 triliun dari Rp2,64 triliun, mencerminkan adanya investasi berkelanjutan pada infrastruktur dan fasilitas produksi. Selain itu, aset tanaman perkebunan menghasilkan tercatat sebesar Rp1,78 triliun, sementara tanaman belum menghasilkan meningkat menjadi Rp653,3 miliar, menunjukkan adanya pipeline pertumbuhan jangka panjang dari sisi produksi.

Dari sisi liabilitas, total kewajiban jangka pendek LSIP meningkat menjadi Rp920,4 miliar dari Rp677,9 miliar.  Untuk liabilitas jangka panjang, LSIP mencatat liabilitas pajak tangguhan sebesar Rp107 miliar, turun dari Rp120 miliar pada tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, total liabilitas LSIP pada 2025 mencapai Rp1,54 triliun. Angka ini mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,28 triliun.

Secara struktur, dengan total aset yang tumbuh lebih cepat dibandingkan liabilitas, posisi keuangan LSIP menunjukkan fundamental yang relatif sehat. Hal ini memberikan bantalan yang cukup kuat bagi perusahaan untuk menghadapi volatilitas harga komoditas, khususnya minyak sawit mentah (CPO), yang menjadi tulang punggung bisnis perseroan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya