KABARBURSA.COM - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menunjukkan profil fundamental yang relatif solid di tengah valuasi yang masih tergolong moderat.
Kombinasi antara rasio valuasi yang tidak berlebihan, profitabilitas yang terjaga, serta kebijakan dividen yang atraktif menjadi daya tarik utama emiten distribusi energi ini.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit, dari sisi valuasi, saham AKRA saat ini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 11,59 kali secara trailing twelve months (TTM) dan 11,05 kali secara forward.
Jika diartikan, level tersebut menggambarkan valuasi yang relatif wajar bahkan cenderung menarik. Selain itu, rasio EV/EBITDA tercatat di level 7,12 kali. Angka ini menunjukkan valuasi yang masih cukup efisien dalam mencerminkan kemampuan operasional perusahaan.
Rasio price to sales (P/S) sebesar 0,61 kali juga menunjukkan bahwa pasar belum memberikan valuasi penuh terhadap pendapatan AKRA. Sementara itu, price to book value (PBV) berada di level 2,32 kali, bisa diartikan saham ini diperdagangkan sedikit di atas nilai bukunya, namun masih dalam batas yang wajar untuk perusahaan dengan profitabilitas tinggi.
Menariknya, rasio price to cash flow dan price to free cash flow yang sama-sama berada di kisaran 5,42 kali mengindikasikan arus kas yang kuat relatif terhadap harga sahamnya.
Dari sisi kinerja per saham, AKRA mencatat earnings per share (EPS) sebesar 127,73 secara TTM dan 130,82 secara annualized. Pendapatan per saham tercatat sebesar 2.426,26, sementara free cash flow per share mencapai 273,16. Angka ini menegaskan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas yang sehat.
Struktur keuangan AKRA juga terbilang sehat dengan current ratio sebesar 1,45 dan quick ratio 1,31. Di sisi lain, debt to equity ratio (DER) yang hanya 0,42 kali yang artinya tingkat leverage yang rendah, sehingga risiko keuangan relatif terjaga.
Dari sisi profitabilitas, AKRA mencatat return on equity (ROE) sebesar 19,99 persen dan return on assets (ROA) sebesar 6,92 persen. ROE yang mendekati 20 persen menunjukkan efisiensi tinggi dalam menghasilkan laba dari modal yang dimiliki.
Meski demikian, margin usaha perusahaan cenderung tipis, dengan gross profit margin sebesar 9,77 persen, operating margin 7,57 persen, dan net profit margin 5,07 persen. Hal ini sejalan dengan karakter bisnis distribusi yang umumnya memiliki margin rendah namun volume tinggi.
Salah satu daya tarik utama AKRA terletak pada kebijakan dividennya. Perusahaan membagikan dividen sebesar 100 per saham dengan dividend yield mencapai 6,76 persen. Payout ratio yang mencapai 76,44 persen menunjukkan komitmen kuat manajemen dalam mengembalikan nilai kepada pemegang saham.
Dengan kombinasi valuasi yang relatif murah, fundamental yang solid, serta imbal hasil dividen yang menarik, AKRA berada dalam posisi yang cukup menarik bagi investor yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan pendapatan pasif.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati dinamika harga komoditas energi dan kondisi makroekonomi yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan ke depan.
Kinerja Positif di Kuartal I 2026
AKRA mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada kuartal I 2026, didukung oleh pertumbuhan pendapatan dan peningkatan laba bersih.
Dalam laporan yang telah dipublikasikan, AKRA sukses membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp12,94 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini meningkat tajam dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak Rp10,25 triliun.
Beriringan dengan itu, laba bruto AKRA juga mencatat kenaikan menjadi Rp1,10 triliun dari sebelumnya Rp926,6 miliar.
Sejalan dengan itu, laba bruto perseroan juga naik menjadi Rp1,10 triliun dari sebelumnya Rp926,6 miliar. Dari sisi profitabilitas, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar Rp656,49 miliar, atau meningkat dibanding kuartal I 2025 sebesar Rp565,20 miliar.
Jika dirinci keseluruhan laba bersih konsolidasian AKRA tercatat Rp760,25 miliar, atau tumbuh sekitar 25 persen secara tahunan. Kinerja apik ini juga terlihat dari laba komprehensif yang mencapai Rp776,30 miliar.
Dari sisi neraca, AKRA mempunyai total aset sebesar Rp37,06 triliun per akhir Maret 2026. Angka ini naik dibanding periode serupa yang sebesar Rp36,56 triliun.
Peningkatan ini terutama didorong oleh kenaikan kas dan setara kas yang mencapai Rp7,28 triliun, serta aset tetap sebesar Rp6,83 triliun
Dari sisi liabilitas, total kewajiban AKRA sebesar Rp20,87 triliun, terbilang stabil jika dibandingkan level akhir tahun sebelumnya. Sedangkan, ekuitas perusahaan pada kuartal I 2026 menjadi Rp16,18 triliun dari Rp15,60 triliun.
Struktur keuangan AKRA juga menunjukkan kondisi yang cukup sehat, dengan komposisi aset lancar sebesar Rp23,36 triliun yang mampu menopang kewajiban jangka pendek.
Dengan kombinasi antara valuasi dan kinerja keuangan tersebut, terlihat adanya disconnect antara valuasi dan kinerja. Di satu sisi, AKRA mampu mencetak pertumbuhan laba dan menjaga profitabilitas yang tinggi. Namun di sisi lain, valuasi pasar masih berada pada level yang relatif wajar, bahkan cenderung undervalued jika dibandingkan dengan kualitas fundamentalnya.
Ke depan, jika tren pertumbuhan ini berlanjut dan margin tetap terjaga, terdapat ruang bagi re-rating valuasi saham AKRA. Investor kemungkinan akan mulai memberikan premi lebih tinggi seiring meningkatnya visibilitas pertumbuhan dan stabilitas kinerja perusahaan.
Pergerakan Saham Positif
Saham AKRA menunjukkan tren penguatan yang cukup konsisten dalam beberapa periode perdagangan, didukung oleh sentimen positif dari rekomendasi analis serta proyeksi harga yang masih membuka ruang kenaikan.
Berdasarkan data pergerakan harga, saham AKRA tercatat mengalami kenaikan sebesar 11,28 persen dalam satu bulan terakhir. Tren ini berlanjut dalam jangka waktu yang lebih panjang, dengan penguatan 13,41 persen dalam tiga bulan dan 22,31 persen dalam enam bulan.
Sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YTD), saham ini telah naik 17,46 persen, sementara dalam periode satu tahun terakhir menguat hingga 24,89 persen.
Jika ditarik lebih panjang, dalam periode lima tahun saham AKRA mencatat lonjakan signifikan hingga 127,69 persen. Namun, dalam rentang tiga tahun, saham ini masih mencatatkan penurunan sebesar 8,36 persen.
Dari sisi sentimen pasar, mayoritas analis di Stockbit masih memberikan pandangan positif terhadap saham AKRA. Dari total 21 analis yang memantau saham ini, sebanyak 19 analis merekomendasikan “buy”, sementara dua analis memberikan rekomendasi “hold” dan tidak ada yang merekomendasikan “sell”.
Dominasi rekomendasi beli tersebut membuktikan optimisme pasar terhadap prospek bisnis dan kinerja keuangan perseroan ke depan.
Sejalan dengan itu, target harga rata-rata analis untuk saham AKRA berada di level Rp1.589 per saham. Angka ini lebih tinggi dibandingkan harga saat ini atau diperdagangan terakhir yang berada di kisaran Rp1.480, sehingga masih terdapat potensi kenaikan sekitar 7 persen.
Adapun target harga tertinggi mencapai Rp1.850, sementara target terendah berada di Rp1.330.
Rentang target harga tersebut menunjukkan bahwa meski prospek saham ini dinilai positif, tetap terdapat variasi pandangan terkait risiko dan potensi pertumbuhan ke depan. Namun secara umum, konsensus analis masih melihat adanya upside yang cukup menarik dalam jangka menengah.
Diborong Asing Sejak Awal Tahun
Aktivitas investor asing pada saham AKRA menunjukkan kecenderungan akumulasi sepanjang tahun atau periode 2 Januari hingga 24 April 2026.
Berdasarkan data transaksi, BK tercatat menjadi broker yang menampung dana asing terbesar dengan nilai mencapai Rp84,3 miliar atau setara 615,8 ribu lot. Rata-rata harga pembelian broker ini berada di kisaran Rp1.338 per saham.
Di posisi kedua, broker ZP membukukan pembelian sebesar Rp72,2 miliar dengan volume 546,8 ribu lot dan rata-rata harga Rp1.311. Selanjutnya, broker KZ mencatatkan pembelian sebesar Rp10,5 miliar, disusul AG sebesar Rp5,1 miliar dan AK sebesar Rp4,3 miliar.
Dari sisi frekuensi transaksi, broker AK mencatat angka cukup tinggi dengan 53,2 ribu kali transaksi, meskipun nilai pembeliannya relatif lebih kecil. Sementara itu, broker ZP juga menunjukkan frekuensi tinggi sebesar 49 ribu kali.
Di sisi lain, tekanan jual juga terlihat meskipun dalam skala lebih terbatas. Broker YU menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp49,7 miliar, diikuti RX sebesar Rp30,2 miliar.
Sejumlah broker lain seperti BB, KK, dan PD juga tercatat melakukan distribusi dengan nilai masing-masing di bawah Rp10 miliar. (*)