KABARBURSA.COM - PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan akumulasi beli asing sepanjang satu bulan terakhir periode 29 April - 29 Mei 2026. Masuknya dana global terjadi saat harga saham ini masih berada di bawah target harga konsensus analis.
Mengutip data broker summary Stockbit periode 29 April hingga 29 Mei 2026, broker BK menjadi aktor utama dalam akumulasi. Sepanjang periode tersebut, BK membukukan pembelian mencapai Rp562,8 miliar atau setara sekitar 2,4 juta lot dengan harga rata rata Rp2.364 per saham. Nilai tersebut bahkan lebih besar dibandingkan total distribusi yang dilakukan sejumlah broker asing lainnya.
Di belakang BK, broker ZP mencatat pembelian Rp82,2 miliar sebanyak 341,8 ribu lot pada harga rata rata Rp2.403. Sementara broker CC mengoleksi saham ADRO senilai Rp38,9 miliar atau sekitar 161,3 ribu lot dengan harga rata rata Rp2.425 per saham.
Akumulasi juga terlihat melalui broker RX yang memborong saham senilai Rp32,3 miliar serta broker BB sebesar Rp14,9 miliar. Broker BB turut menambah kepemilikan dengan nilai akumulasi Rp14,9 miliar sebanyak 66,7 ribu lot pada harga rata rata Rp2.267 per saham.
Di luar lima besar, broker AG tercatat memborong saham ADRO senilai Rp3,5 miliar atau sekitar 14 ribu lot dengan harga rata rata Rp2.514 per saham.
Broker KZ melakukan pembelian sebesar Rp2 miliar atau sekitar 7 ribu lot pada harga rata rata Rp2.516 per saham. Kemudian broker EP mengoleksi saham senilai Rp575,7 juta sebanyak 2,3 ribu lot dengan harga rata rata Rp2.476 per saham.
Broker KK mencatat pembelian sebesar Rp320,5 juta atau sekitar 1,4 ribu lot pada harga rata rata Rp2.350 per saham. Sementara broker DX menjadi broker terakhir dalam daftar akumulasi dengan pembelian sebesar Rp231,3 juta atau sekitar 1 ribu lot pada harga rata rata Rp2.290 per saham.
Di sisi distribusi, tekanan jual asing paling besar berasal dari broker YU yang melepas saham ADRO senilai Rp219,1 miliar sepanjang periode 29 April hingga 29 Mei 2026. Nilai tersebut menjadikan YU sebagai distributor terbesar dan menyumbang mayoritas aksi jual asing yang tercatat selama periode sebulan terakhir.
Aksi distribusi kemudian diikuti broker AK dengan nilai penjualan mencapai Rp75 miliar, menjadikannya distributor terbesar kedua setelah YU. Sementara itu, broker TP berada di posisi ketiga dengan total penjualan sebesar Rp16,9 miliar.
Di luar tiga broker tersebut, distribusi dalam skala lebih kecil dilakukan broker QA yang mencatatkan penjualan Rp4,4 miliar. Selanjutnya broker GR melepas saham senilai Rp493,6 juta, disusul broker YP sebesar Rp187,7 juta.
Broker DR juga tercatat melakukan distribusi senilai Rp133,6 juta, sementara broker AI menjual saham ADRO sebesar Rp113,4 juta. Adapun broker LG membukukan penjualan Rp101,7 juta, sedangkan broker DH melepas saham senilai Rp96,9 juta.
Konsensus Analis Masih Kasih Potensi Kenaikan
Arus akumulasi investor asing yang terus masuk ke saham ADRO tampaknya sejalan dengan pandangan mayoritas analis. Di tengah harga saham yang masih bertahan di level Rp2.300 pada perdagangan terakhir pekan lalu, konsensus pasar justru menunjukkan ruang kenaikan yang masih cukup lebar.
Data konsensus analis yang dihimpun Stockbit menunjukkan sebanyak 18 analis masih memantau saham ADRO. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 analis memberikan rekomendasi beli, dua analis memilih menahan, dan hanya satu analis yang memberikan rekomendasi jual.
Komposisi tersebut menunjukkan tingkat optimisme yang sangat dominan terhadap prospek ADRO dalam jangka menengah. Dengan kata lain, lebih dari 83 persen analis yang mencakup saham ini masih merekomendasikan investor untuk mengoleksi saham ADRO.
Tidak hanya dari sisi rekomendasi, optimisme tersebut juga tercermin dari target harga yang diberikan.
Rata rata target harga analis berada di level Rp3.183 per saham. Angka tersebut berada sekitar 38,4 persen di atas harga pasar saat ini yang berada di level Rp2.300 per saham.
Sementara itu, target harga tertinggi mencapai Rp4.100 per saham. Jika target paling optimistis tersebut terealisasi, maka potensi kenaikan saham ADRO dapat mencapai sekitar 78 persen dari posisi sekarang. Adapun target harga terendah berada di level Rp1.466 per saham.
Antrean Beli Menumpuk di ADRO
Berdasarkan data perdagangan terakhir pada Jumat, 29 Mei 2026, antrean beli atau bid terbesar ADRO terkonsentrasi tepat di level Rp2.300 dengan volume mencapai 68.433 lot.
Jumlah tersebut menjadi lapisan permintaan terbesar dalam antrian pasar saat ini dan menunjukkan banyak pelaku pasar masih melihat level tersebut sebagai area yang menarik untuk melakukan akumulasi.
Selain itu, terdapat tambahan permintaan sebanyak 42.901 lot di harga Rp2.300 dengan frekuensi transaksi mencapai 252 kali. Jika digabungkan, total permintaan pada level tersebut mencapai lebih dari 111 ribu lot.
Di sisi lain, lapisan penawaran atau ask terdekat berada pada level Rp2.310 dengan volume hanya sekitar 1.127 lot. Jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan antrean beli yang berada tepat di bawahnya.
Data order book menunjukkan penumpukan penawaran mulai meningkat pada rentang Rp2.330 hingga Rp2.400. Pada harga Rp2.320 terdapat antrean jual sebanyak 3.574 lot. Jumlah tersebut meningkat menjadi 10.879 lot pada level Rp2.330.
Tekanan penawaran juga terlihat pada harga Rp2.340 sebesar 6.106 lot dan Rp2.350 sebesar 7.504 lot. Artinya, setiap upaya kenaikan harga dalam jangka pendek masih harus menghadapi sejumlah lapisan penjual yang cukup tebal.
Valuasi Masih Murah
Berdasarkan data key statistics per 1 Juni 2026, saham ADRO diperdagangkan di level Rp2.300 per saham dengan rasio price to earnings (PER) tahunan sebesar 7,82 kali dan PER trailing twelve months (TTM) 8,16 kali. Sementara itu, forward PER tercatat lebih rendah di level 6,16 kali.
Level valuasi tersebut menunjukkan pasar masih memberikan diskon terhadap prospek kinerja ADRO ke depan.
Tidak hanya dari sisi laba, valuasi berbasis aset juga terlihat menarik. Price to book value (PBV) ADRO tercatat hanya 0,81 kali. Kondisi ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa investor institusi, termasuk dana asing, masih mempertahankan minat terhadap ADRO.
Dari sisi profitabilitas, fundamental ADRO juga masih tergolong solid. Return on Equity (ROE) tercatat sebesar 9,95 persen dan Return on Assets (ROA) sebesar 6,78 persen. Perseroan juga membukukan gross profit margin 37,92 persen, operating profit margin 30,08 persen, serta net profit margin 27,21 persen.
Margin laba bersih di atas 27 persen menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang relatif tinggi dari setiap pendapatan yang diperoleh. Angka tersebut masih tergolong kuat untuk perusahaan berbasis komoditas yang umumnya menghadapi fluktuasi harga jual dan biaya operasional.
Daya tahan fundamental ADRO juga terlihat dari kondisi neracanya. Current ratio mencapai 4,32 kali dan quick ratio 4,10 kali. Kedua indikator tersebut menunjukkan likuiditas perusahaan berada dalam kondisi sangat sehat karena aset lancar jauh lebih besar dibanding kewajiban jangka pendek.
Sementara itu, debt to equity ratio hanya 0,22 kali. Rasio utang yang rendah memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk menghadapi siklus penurunan harga komoditas tanpa tekanan keuangan yang berlebihan.
Selain valuasi dan fundamental, daya tarik utama ADRO masih berasal dari dividen. Data menunjukkan dividend yield perseroan mencapai 11,45 persen dengan total dividen TTM sebesar Rp263,4 per saham.
ADRO Koreksi Sebulan, Namun Cuan Jangka Panjang Masih Sulit Dibantah
Pergerakan saham ADRO dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan kontras yang menarik. Di tengah tekanan jangka pendek yang membuat harga saham terkoreksi hampir 9 persen dalam sebulan terakhir, kinerja jangka panjang emiten ini masih memperlihatkan kemampuan menciptakan nilai bagi investor.
Berdasarkan data perdagangan per 1 Juni 2026, saham ADRO berada di level Rp2.300 per saham. Dalam periode satu bulan, harga saham tercatat turun 8,73 persen setelah sempat bergerak pada rentang Rp2.140 hingga Rp2.600.
Dalam enam bulan terakhir, saham ADRO masih mencatat kenaikan 27,07 persen. Kinerja yang sama juga terlihat sejak awal tahun atau year to date yang masih menguat 27,07 persen.
Dalam satu tahun terakhir saham ini masih mencatat kenaikan 4,55 persen. Dalam tiga tahun naik 12,75 persen. Dalam lima tahun melonjak 93,28 persen dan dalam 10 tahun menghasilkan kenaikan hingga 223,94 persen.
Disclaimer
Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.
Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu.
Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.