Jika menilik data terbaru dari Stockbit, Indo Premier Sekuritas (PD) muncul sebagai satu dari sedikit broker yang masih aktif di jalur akumulasi. Dengan nilai beli mencapai Rp13,8 miliar, volume 127.100 lot, dan harga rata-rata Rp1.089, posisi PD menunjukkan keberanian bertahan di tengah pasar yang mulai menunjukkan gejala ambivalen.
Namun di sisi lain, beberapa broker besar justru tercatat sebagai penjual aktif. Mirae Asset Sekuritas (YP) yang sebelumnya dikenal agresif di fase awal reli, kini justru melepas posisi senilai Rp6,4 miliar. MNC Sekuritas (EP) juga mulai mencatatkan aksi jual dengan nilai distribusi sekitar Rp5,9 miliar. Data ini menunjukkan sebagian institusi sudah mulai mengurangi eksposurnya di harga atas, sementara sebagian lainnya—seperti PD—masih mempertahankan keyakinan jangka pendek.
Nama-nama broker lokal seperti BNI Sekuritas (NI), Mandiri Sekuritas (CC), dan Stockbit Sekuritas Digital (XL) masih tercatat aktif di sisi beli. NI memborong saham ADMR senilai Rp8,4 miliar dengan volume 77.300 lot di harga rata-rata Rp1.085, disusul CC dengan pembelian Rp3,7 miliar (34.100 lot) di harga Rp1.088. Sementara itu, XL mencatat pembelian sebesar Rp910,5 juta dengan 8.500 lot di harga Rp1.089.

Meskipun nilai mereka belum sebanding dengan Indo Premier (PD) yang masih memimpin akumulasi, kehadiran para broker ini menunjukkan ada kelompok pelaku pasar yang tetap menjaga posisi beli di tengah tekanan jual yang mulai meningkat dari broker besar lain seperti Mirae Asset Sekuritas dan MNC Sekuritas.
Peta ini sejalan dengan apa yang terjadi di orderbook hari ini. Saham ADMR ditutup di level Rp1.095 dengan bid-offer yang saling mengunci di kisaran Rp1.090–Rp1.100. Jumlah lot terbanyak justru menumpuk di level Rp1.080 dan Rp1.050, yang masing-masing mencatat lebih dari 20.000 lot di sisi bid. Ini mengindikasikan banyak pelaku pasar bersiap masuk di harga lebih rendah.
Di sisi jual, tekanan jual terbesar tampak di level Rp1.115 (36.301 lot) dan Rp1.135 (17.376 lot). Dua level ini menjadi titik kritis, tempat di mana investor yang masuk di harga lebih rendah kemungkinan besar mulai melepas barang. Situasi ini menguatkan dugaan ADMR sedang berada di fase transisi: antara peluang breakout dan potensi distribusi bertahap.
Dengan nilai frekuensi transaksi mencapai 11.320 kali dan nilai perdagangan tembus Rp90,2 miliar, likuiditas ADMR masih terjaga. Tapi struktur transaksinya mulai memperlihatkan gejala tarik-ulur yang intens—bisa menjadi awal konsolidasi atau bahkan koreksi teknikal jangka pendek jika tidak ada dorongan volume baru.
Tekanan Naik Masih Kuat, tapi Nafasnya Mulai Berat
Dari sisi teknikal, saham ADMR tampaknya masih belum kehabisan tenaga. Mayoritas indikator menunjukkan sinyal “beli”. Tapi, di tengah euforia harga yang terus naik, muncul juga tanda-tanda bahwa lajunya mulai ngos-ngosan.
Hingga Kamis pagi, 22 Mei 2025, ringkasan teknikal Investing menempatkan ADMR dalam kategori “Strong Buy”, baik dari indikator maupun rata-rata pergerakan (moving average). Dari 13 indikator utama, 12 memberi sinyal beli, dan hanya satu yang menyarankan untuk menahan napas sebentar.
Relative Strength Index atau RSI berada di 73,8—angka yang secara teknikal sudah masuk ke zona jenuh beli. Artinya, secara momentum, ADMR sudah mendaki terlalu cepat. Biasanya, di zona ini, saham akan berhenti sejenak untuk mengambil nafas atau bahkan turun pelan agar bisa naik lagi dengan tenaga baru.
Sementara itu, Stochastic (9,6) yang berada di level 70,5 masih memberi ruang untuk naik, meski sudah di tepi jurang optimisme. Namun, Stochastic RSI (14) justru turun ke 29,4, yang memberi sinyal bahwa dalam jangka sangat pendek, tenaga beli mulai menurun.
Di sisi lain, indikator MACD, ADX, CCI, dan Ultimate Oscillator masih menegaskan arah tren yang menguat. ADMR saat ini bukan hanya naik karena euforia, tapi juga karena dukungan teknikal yang masih utuh. Tapi seperti halnya jalan tanjakan, makin tinggi, makin licin.
Lihat saja dari indikator moving average. Harga saham ADMR saat ini berada di atas semua garis MA: dari MA5 (Rp1.093), MA10 (Rp1.087), MA20 (Rp1.052), sampai MA200 (Rp920,9). Secara teknikal, ini mencerminkan dominasi tren naik yang cukup tegas. Tapi justru karena semuanya “terlalu mulus”, potensi koreksi jangka pendek makin besar karena investor cenderung mulai hati-hati saat grafik terlalu rapi.
Data pivot point klasik juga menempatkan Rp1.093 sebagai titik pivot hari ini. Di atasnya ada resistance-resistance ringan yang mulai padat: R1 di Rp1.101, lalu R2 di Rp1.108, dan puncaknya R3 di Rp1.116. Harga hari ini sempat nyolek Rp1.115, lalu mundur lagi. Artinya apa? ADMR sedang mengetuk pintu resistance yang kokoh, tapi belum tentu langsung dibukakan.
Di sisi pola candlestick, muncul kombinasi yang cukup menarik. Harami Bullish dan Harami Cross di timeframe 15 menit menunjukkan upaya pembalikan arah yang positif. Tapi muncul pula Deliberation Bearish di timeframe 1 jam, sinyal bahwa pembeli sudah mulai lelah dan butuh konfirmasi tambahan sebelum lanjut naik.
Akumulasi ADRO Sejak Februari
Lonjakan harga saham ADMR dalam sepekan terakhir tidak bisa dilepaskan dari manuver induk usahanya sendiri. Sejak Februari 2025, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) terpantau lima kali memborong saham ADMR di pasar reguler dengan total pembelian mencapai lebih dari 109 juta saham. Salah satu aksi paling mencolok terjadi pada 21 Februari 2025, saat ADRO mengakumulasi 109 juta saham ADMR di harga rata-rata Rp965 per saham dengan nilai transaksi menembus Rp105,18 miliar.
Aksi ini tercatat dalam keterbukaan informasi BEI dan dilakukan melalui mekanisme transaksi langsung di pasar, bukan lewat right issue atau aksi korporasi khusus. Dengan pembelian ini, ADRO mempertebal posisinya sebagai pengendali ADMR, sekaligus menandai adanya penguatan struktur kepemilikan jangka panjang.
Pasar merespons positif. Sejak akumulasi itu dimulai, volume transaksi ADMR cenderung meningkat, meski pergerakan harganya baru menanjak agresif dalam sepuluh hari terakhir. Keterlambatan reaksi ini wajar, mengingat akumulasi oleh institusi besar seringkali terjadi saat pasar ritel masih pasif. Begitu harga mulai naik dan momentum teknikal terbentuk, ekspektasi ikut melonjak dan membawa serta investor ritel masuk ke arena.
Namun, data teknikal menyampaikan pesan yang berbeda. Kenaikan cepat ini mendorong RSI ke angka 73,8 dan mendekati area jenuh beli. Harga yang sudah menyentuh Rp1.115 hari ini pun akhirnya terkoreksi dan ditutup di Rp1.095, tepat di bawah resistance kunci Rp1.100. Secara historis, pola semacam ini sering kali menjadi momen transisi antara fase reli dan fase distribusi awal.
Orderbook juga mulai menunjukkan gejala tarik-ulur. Bid tebal muncul di bawah, sedangkan offer bertahan ketat di atas. Ini menciptakan tekanan horizontal yang rawan pecah ke dua arah. Jika ADMR gagal menembus Rp1.101 dalam satu atau dua hari ke depan, maka peluang koreksi ke kisaran Rp1.050 akan semakin besar. Sebaliknya, jika berhasil breakout dengan volume yang mendukung, potensi menguji ulang level Rp1.115–Rp1.120 tetap terbuka.
Dengan latar belakang seperti ini, investor perlu cermat membaca pergerakan harga ke depan. Akumulasi ADRO bisa menjadi fondasi tren jangka menengah, tapi di level sekarang, risiko jangka pendek masih membayangi.
Bagi yang sudah memiliki saham ADMR sejak bawah (area Rp900–Rp1.000), masih layak hold selama harga bertahan di atas support Rp1.050. Tapi jika harga gagal breakout di atas Rp1.100 dalam dua hari ke depan, mulai evaluasi untuk profit taking bertahap.
Untuk yang belum masuk, mengejar harga sekarang berisiko tinggi karena sinyal jenuh beli mulai muncul. Tunggu koreksi ke kisaran Rp1.045–Rp1.060 sebagai entry point yang lebih aman. Konfirmasi breakout di atas Rp1.101–Rp1.105 dengan volume besar juga bisa jadi sinyal masuk alternatif.
Investor jangka pendek sebaiknya memperhatikan dinamika volume harian dan bid-offer orderbook dalam dua sesi ke depan. Sementara itu, investor jangka menengah masih bisa melihat ADMR sebagai bagian dari prospek logam berbasis energi jika tren akumulasi oleh ADRO berlanjut.(*)