Insight Daily 29 Dec 2025 Penulis: KabarBursa.com

6 Saham ini Melejit Pekan Lalu, Mana yang Melanjutkan Momentum?

Enam saham mencatat lonjakan pekan lalu, tapi hanya dua yang masih kuat bertahan. Simak analisis serta risiko koreksi di enam saham lainnya.

KABARBURSA.COM — Perdagangan saham pada pekan lalu mencatat lonjakan tajam di sejumlah emiten berkapitalisasi kecil dan menengah. Enam saham mencatat kenaikan dua digit dalam satu pekan perdagangan, dengan penguatan berkisar antara 14 persen hingga lebih dari 30 persen.Memasuki awal pekan berjalan, data harga dan transaksi menunjukkan respons pasar yang tida...

Ilustrasi saham terbaik pekan lalu yang masih melanjutkan momentum pada pekan ini. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi saham terbaik pekan lalu yang masih melanjutkan momentum pada pekan ini. Foto: dok KabarBursa.com

Insight Navigator

  1. 01 Seleksi Pasar Mulai Terlihat

KABARBURSA.COM — Perdagangan saham pada pekan lalu mencatat lonjakan tajam di sejumlah emiten berkapitalisasi kecil dan menengah. Enam saham mencatat kenaikan dua digit dalam satu pekan perdagangan, dengan penguatan berkisar antara 14 persen hingga lebih dari 30 persen.

Memasuki awal pekan berjalan, data harga dan transaksi menunjukkan respons pasar yang tidak seragam. Dari enam saham yang sebelumnya masuk jajaran teratas, hanya dua saham yang masih mampu mempertahankan struktur pergerakan harga dan aktivitas transaksi.

Berdasarkan data perdagangan, lonjakan pada pekan lalu sebagian besar terjadi dalam satu hingga dua sesi. Volume dan nilai transaksi melonjak tajam bersamaan dengan kenaikan harga.

Namun, pada saham tertentu, volume justru tetap tinggi saat harga mulai terkoreksi. Pola ini mengindikasikan bahwa tidak seluruh reli direspons sebagai awal pergerakan berkelanjutan. Pasar mulai melakukan seleksi berdasarkan daya tahan harga setelah lonjakan.

Enam saham yang mencatat kinerja terbaik pekan lalu adalah PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PAMG), PT Net Visi Media Tbk (NETV), PT Lerna Indo Resources Tbk (LRNA), PT Sekar Bumi Tbk (SKBM), PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI), dan PT Artha Prima Investama Tbk (ATAP). Seluruhnya mencatat kenaikan signifikan dalam periode yang sama, namun pergerakan setelahnya menunjukkan perbedaan arah.

PAMG menjadi penguat tertinggi dengan kenaikan sekitar 30,3 persen sepanjang pekan lalu dan ditutup di level Rp86. NETV menyusul dengan penguatan 25,6 persen ke posisi Rp147.

LRNA melonjak 25 persen dan berakhir di kisaran Rp300 sebelum kembali menguat pada sesi berikutnya. SKBM mencatat kenaikan lebih dari 24 persen dan sempat bergerak di atas Rp700. CSMI menguat 14,9 persen ke level Rp262, sementara ATAP naik sekitar 24,6 persen dan ditutup di Rp416. Lonjakan tersebut menjadi titik awal perbedaan respons pasar.

Memasuki sesi-sesi berikutnya, sebagian saham gagal mempertahankan area kenaikannya. Koreksi muncul relatif cepat, disertai aktivitas transaksi yang masih besar. Pada kondisi ini, volume tidak berfungsi sebagai konfirmasi penguatan, melainkan mengiringi penurunan harga. Pola tersebut membedakan saham yang masih dijaga dari yang mulai dilepas setelah reli singkat.

Seleksi Pasar Mulai Terlihat

LRNA menjadi saham dengan ketahanan paling jelas pasca-lonjakan. Setelah sempat bergerak di kisaran Rp300, harga LRNA kembali menguat dan pada hari terakhir perdagangan terkunci di Rp344, atau naik 14,7 persen dalam satu sesi.

Volume perdagangan mencapai 9,89 juta saham, jauh di atas rata-rata harian sekitar 1,71 juta saham. Lonjakan volume tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan harga, bukan saat koreksi.

Dari sisi transaksi, nilai perdagangan LRNA meningkat signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Orderbook memperlihatkan antrean bid yang mendominasi di area harga atas, sementara tekanan jual relatif terbatas.

Tidak terlihat pelepasan agresif di dekat harga tertinggi. Broker summary juga menunjukkan transaksi beli dan jual yang relatif tersebar tanpa dominasi penjualan besar. Dengan harga yang bertahan di area atas dan volume yang masih aktif, LRNA masih mencatat struktur pergerakan yang utuh.

Ketahanan juga terlihat pada NETV. Setelah melonjak ke Rp147, saham ini sempat terkoreksi terbatas sebelum bergerak mendatar di kisaran Rp145–150. Sepanjang sepekan, volume perdagangan NETV tercatat sekitar 84,91 juta saham, hampir tiga kali lipat dari rata-rata harian sekitar 30,37 juta saham. Nilai transaksi harian tetap berada di kisaran Rp40–60 miliar, menunjukkan aktivitas pasar belum surut.

Orderbook NETV memperlihatkan antrean bid yang cukup rapat di dekat harga berjalan. Meskipun penawaran di atas harga masih ada, tekanan jual tidak mendominasi.

Aktivitas broker menunjukkan keseimbangan antara beli dan jual, dengan beberapa broker besar masih tercatat aktif di sisi pembelian. Harga tidak runtuh kembali ke bawah level kenaikan, menandakan fase konsolidasi masih berlangsung dengan dukungan transaksi.

Empat saham lainnya menunjukkan pola yang berbeda. PAMG, meski menjadi penguat tertinggi pekan lalu, memasuki fase pendinginan. Setelah ditutup di Rp86, harga bergerak mendatar dan kemudian turun ke kisaran Rp68–70. Volume harian menyusut dibandingkan hari lonjakan, sementara orderbook memperlihatkan penawaran lebih besar di atas harga berjalan. Dorongan lanjutan tidak terlihat hingga akhir sesi.

SKBM mencatat koreksi paling tajam. Setelah dua hari kenaikan agresif, harga terkoreksi 14,57 persen dan turun dari area Rp720 ke kisaran Rp605. Volume tetap tinggi saat harga melemah, menunjukkan distribusi terjadi bersamaan dengan penurunan. Hingga akhir perdagangan, harga gagal kembali ke area puncak dan tekanan jual masih terlihat.

CSMI juga gagal mempertahankan kenaikan. Setelah menyentuh Rp262, harga terkoreksi beruntun ke kisaran Rp220–222. Volume dan nilai transaksi meningkat saat koreksi, mengindikasikan pelepasan posisi. Orderbook menunjukkan penumpukan penawaran di atas harga berjalan, membatasi ruang penguatan lanjutan.

ATAP mencatat pola serupa. Setelah mencapai puncak di Rp650, saham ini terkoreksi tajam 14,62 persen ke Rp555 dalam satu sesi. Nilai transaksi tetap besar, mendekati Rp20 miliar, menandakan tekanan jual aktif di area atas. Hingga akhir perdagangan, harga belum kembali ke area puncaknya.

Pergerakan enam saham tersebut menunjukkan bahwa besarnya kenaikan tidak otomatis menjamin keberlanjutan momentum. Data harga, volume, dan transaksi menjadi pembeda utama antara reli yang bertahan dan reli yang cepat terhenti.

Berdasarkan data perdagangan yang tersedia, hanya LRNA dan NETV yang masih mampu menjaga struktur pergerakan pasca-lonjakan pekan lalu, sementara empat saham lainnya mulai kehilangan tenaga seiring meningkatnya tekanan jual.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya