Ekonomi Hijau 26 May 2025 Penulis: Redaksi KabarBursa Editor: Syahrianto

RUU EBT Berpotensi Tekan Valuasi Saham Energi Hijau

Sejumlah emiten energi hijau dinilai berisiko kehilangan momentum jika RUU EBT tak memberi kepastian. Investor menunggu regulasi yang tegas agar valuasi tak jeblok di tengah ekspansi.

Valuasi saham energi hijau seperti PGEO, HGII, dan KN bisa terdampak jika RUU EBT tak beri kepastian. Regulasi kabur buat investor was-was.

Valuasi saham energi hijau seperti PGEO, HGII, dan KN bisa terdampak jika RUU EBT tak beri kepastian. Regulasi kabur buat investor was-was. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Valuasi saham energi hijau seperti PGEO, HGII, dan KN bisa terdampak jika RUU EBT tak beri kepastian. Regulasi kabur buat investor was-was. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Daftar Isi

  1. 01 IPO tak Menjamin Pendanaan Sukses

KABARBURSA.COM – Kepastian hukum masih jadi barang mahal di pasar energi hijau. Di tengah gembar-gembor transisi, Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT) justru mengundang kekhawatiran. Bukan hanya soal pasal-pasal abu-abu, tapi juga dampaknya terhadap valuasi saham emiten yang sedang agresif ekspansi di sektor energi bersih.

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyebut regulasi yang kabur bisa bikin investor ragu, apalagi bagi perusahaan seperti PGEO, HGII, dan KEEN yang sedang cari dana lewat bursa. Harga saham boleh naik, tapi tanpa kepastian hukum, nilai dan daya tariknya bisa tergerus pelan-pelan.

“PGEO, HGII, KEEN itu kan perusahaan energi hijau yang sudah listing. Mereka ingin cari dana dari pasar untuk bangun pembangkit, mungkin smelter juga. Tapi kalau RUU EBT disahkan tanpa kejelasan, ya pasti mempengaruhi valuasi mereka,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Senin, 26 Mei 2025.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga saham emiten energi hijau belum tentu berdampak signifikan terhadap kekuatan modal mereka. Di balik grafik yang naik, perusahaan masih kesulitan menjangkau kebutuhan pendanaan untuk membangun infrastruktur skala besar.

“Walaupun harga saham naik, belum tentu cukup bantu pendanaan proyek mereka. Apalagi porsi saham yang dilepas ke publik umumnya kecil, maksimal 15 persen saja. Artinya, dana yang terkumpul juga terbatas,” tegasnya.

Ia menambahkan, mayoritas emiten energi baru dan terbarukan pada akhirnya tetap menggantungkan diri pada sumber pendanaan jumbo dari luar negeri atau lembaga keuangan global. Sebab, proyek-proyek mereka membutuhkan suntikan modal yang tak bisa dipenuhi hanya dari dana IPO semata.

Fenomena keterbatasan dana dari pasar saham ini tidak hanya terjadi pada sektor energi hijau. Emiten-emiten sektor batu bara pun mengalami hal serupa, di mana mayoritas masih mengandalkan fasilitas pinjaman untuk eksplorasi maupun pengembangan usaha.

“Perusahaan batu bara juga begitu. Walaupun sudah IPO, tetap banyak yang bergantung pada pinjaman bank. Misalnya pakai LC atau SKBDN buat impor alat atau eksplorasi. Jadi bukan semata-mata andalkan dana dari pasar,” jelasnya.

Ia mencontohkan kasus perusahaan TPK (tenaga pembangkit khusus) di Jawa Tengah, yang meskipun sudah melantai di bursa, tetap mengalami masalah pendanaan dan memiliki utang jumbo ke sejumlah bank.

“Yang di Jawa Tengah itu misalnya, mereka punya utang sampai Rp3,5 triliun ke bank-bank besar. Artinya, saat IPO pun sahamnya belum tentu laku. Dan kalau laku pun, belum tentu dana yang dikumpulkan cukup,” ungkapnya.


IPO tak Menjamin Pendanaan Sukses


Ibrahim menyebut struktur kepemilikan saham dan strategi pelepasan saham ke publik menjadi salah satu hambatan utama perusahaan energi hijau dalam menghimpun dana besar lewat pasar modal.

“PGEO, HGII, KEEN itu bisa naik sahamnya, tapi tetap saja porsi publiknya terbatas. Akhirnya, untuk pembiayaan tetap butuh partner strategis dari luar. Saham mereka tidak bisa sepenuhnya menopang rencana ekspansi besar,” jelas Ibrahim.

Ia membandingkan kondisi emiten energi hijau dengan saham-saham BIK2 yang memiliki porsi free float besar. BIK2 adalah istilah pasar untuk merujuk pada saham-saham yang punya likuiditas tinggi karena sebagian besar sahamnya dilepas ke publik.

Menurutnya, saham BIK2 lebih mampu mendorong pendanaan ekspansi karena likuiditasnya tinggi dan sahamnya banyak beredar di pasar. Harga saham BIK2 bisa melesat dari level murah hingga menembus Rp13.000, sesuatu yang belum bisa dicapai oleh perusahaan-perusahaan energi terbarukan saat ini.

Ibrahim mengatakan  kejelasan regulasi menjadi krusial untuk menjaga stabilitas dan menarik minat investor ke sektor energi baru dan terbarukan. Tanpa kepastian, valuasi saham bisa terganggu dan proyek berisiko tertunda.

“Kalau pasalnya ambigu, investor pasti was-was. Apalagi ini proyek jangka panjang. Kalau tidak ada kepastian, valuasi saham bisa jeblok dan minat investor turun,” katanya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
RE
KabarBursa.pro Editorial Team

Redaksi KabarBursa

Berita Terkait